5 Alasan Kenapa Seharusnya Jalan Industri Bagus

Cerita Kota / Redaksi verified / 20 Juni 2026 16:52 WIB / Dibaca: 1195 kali / Waktu Baca: 4 menit

5 Alasan Kenapa Seharusnya Jalan Industri Bagus

Ilustrasi gambar Jalan Industri yang ideal, dihasilkan dari AI generate.

URBANCIKARANG.com, Cikarang Utara - Diakui atau tidak, sadar atau tidak, Jalan Industri adalah salah satu ruas jalan paling penting di Cikarang. Jalan sepanjang kurang lebih 8 kilometer ini bukan sekadar jalur biasa. Setiap hari, ribuan kendaraan melintas di sana: pekerja, warga, angkutan umum, kendaraan pribadi, hingga kendaraan industri.

Jalan Industri terbagi menjadi dua segmen, pertama segmen titik nol Cikarang atau kawasan SGC sampai dengan traffic light Pasir Gombong dan segmen kedua traffic light Pasir Gombong sampai dengan traffic light pintu Tol Cikarang Barat. Dalam konteks ini, bahasan pada segmen pertama.

Masalahnya, untuk jalan sepenting itu, kondisinya justru terasa jauh dari kata layak. Marka jalan banyak yang tidak terlihat, penerangan jalan kadang hidup kadang mati, beberapa titik jalan tidak rata, kerusakan tidak kunjung ditangani maksimal, utilitas jalan terasa kurang rapi, dan kabel-kabel fiber optik yang menggantung menumpuk membuat wajah Jalan Industri makin terlihat semrawut, banjir dan tumpukan sampah di beberapa titik jalan.

Foto pendukung artikel 2
Foto pendukung artikel 3

Padahal, Jalan Industri punya posisi strategis yang seharusnya membuat pemerintah dan pemangku kepentingan memberi perhatian lebih.

Pertama, Jalan Industri berada di kawasan penting yang berkaitan dengan titik nol Cikarang. Masyarakat lama tentu masih ingat, kawasan yang kini dikenal sebagai simpang SGC dulunya merupakan kawasan Terminal Cikarang. Sebelum berdiri pusat perbelanjaan seperti sekarang, di tengah persimpangan itu pernah ada tugu jam yang dikenal sebagai penanda titik nol Cikarang. Artinya, Jalan Industri bukan hanya jalur lalu lintas, tetapi juga bagian dari ruang sejarah dan identitas Cikarang.

Kedua, Jalan Industri menjadi penghubung antara jalan nasional dan jalan provinsi. Ruas ini menghubungkan kawasan Jalan RE Martadinata dengan Jalan Cikarang-Cibarusah yang kini dikenal sebagai Jalan KH. Raden Ma’mun Nawawi. Pemerintah Kabupaten Bekasi sendiri telah menyosialisasikan perubahan nama ruas Jalan Cibarusah menjadi Jalan KH. Raden Ma’mun Nawawi.

Foto pendukung artikel 4

Dalam kacamata masyarakat awam, jalan yang menjadi penghubung antarruas besar seperti ini seharusnya punya standar yang lebih baik. Minimal marka jelas, lampu penerangan berfungsi, drainase dan utilitas tertata, serta permukaan jalan aman dilalui.

Ketiga, Jalan Industri adalah urat nadi penghubung wilayah utara dan selatan Cikarang. Perkembangan hunian di wilayah utara membuat arus kendaraan ke kawasan industri di wilayah selatan semakin padat. Banyak pekerja dari arah utara Cikarang menuju kawasan industri melewati jalur ini. Memang, sebagian masih terbantu oleh jalan-jalan alternatif atau jalan tembus kawasan. Tapi bisa dibayangkan kalau semua kendaraan hanya bertumpu pada Jalan Industri. Kesesakan lalu lintas pasti jauh lebih parah.

Foto pendukung artikel 5

Keempat, di jalan ini juga ada kantor pelayanan publik yang berkaitan langsung dengan urusan kendaraan dan lalu lintas. Samsat Kabupaten Bekasi tercatat berada di Jl. Raya Industri No.14, Pasirgombong, Cikarang Utara. Di sisi lain, masyarakat juga mengenal kawasan ini dekat dengan aktivitas Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi.

Ini yang membuat kondisinya terasa ironis. Jalan yang dilalui masyarakat untuk urusan pajak kendaraan dan layanan transportasi justru belum mencerminkan wajah jalan yang tertata. Padahal, Bapenda Jawa Barat pernah menyampaikan bahwa pajak kendaraan kembali digunakan untuk membangun Jawa Barat, termasuk memperbaiki jalan dan pembangunan lainnya. Maka wajar kalau publik berharap jalan di sekitar pusat layanan seperti ini tampil lebih rapi, aman, dan nyaman.

Kelima, Jalan Industri juga menjadi jalur penting transportasi umum dan mobilitas pekerja. Dari arah Terminal Cikarang, Stasiun Cikarang, hingga akses warga dari Karawang dan sekitarnya, banyak pergerakan masyarakat yang pada akhirnya terkoneksi ke jalur ini. Angkot, kendaraan pribadi, ojek online, motor pekerja, hingga kendaraan barang bertemu di ruas yang sama.

Sayangnya, kondisi transportasi umum yang melintas juga seperti luput dari perhatian. Masih banyak angkot yang kondisinya tidak prima. Padahal, dengan beban mobilitas sebesar Cikarang, pemerintah sudah seharusnya mulai memikirkan transportasi penghubung yang lebih nyaman dari titik-titik akses di utara menuju kawasan industri di selatan.

Jalan Industri tidak bisa lagi dilihat sebagai jalan biasa. Jalan ini adalah wajah Cikarang. Ia menghubungkan sejarah, pusat layanan publik, kawasan hunian, kawasan industri, transportasi pekerja, dan simpul ekonomi masyarakat.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar tambal sulam. Jalan Industri perlu ditata serius: marka jalan diperjelas, penerangan dipastikan menyala, jalan rusak diperbaiki, kabel udara ditertibkan, utilitas dirapikan, angkutan umum dibenahi, dan lalu lintasnya diatur lebih manusiawi.

Sebab kalau jalan sepenting Jalan Industri saja dibiarkan terlihat kumuh, gelap, tidak rata, dan semrawut, lalu jalan mana lagi di Cikarang yang layak disebut prioritas?

Jalan Industri bukan jalan pinggiran. Jalan Industri adalah jalur utama kehidupan Cikarang. Sudah saatnya diperlakukan sebagaimana mestinya.

Topik Terkait

Cerita Kota Alasan Kenapa Seharusnya Jalan Industri
Artikel Selanjutnya
Masyarakat Bekasi Peduli Gizi Anak Bangsa Gelar Aksi Dukungan Program MBG di Cikarang Berita Masyarakat Bekasi Peduli Gizi Anak Bangsa Gelar Aksi Dukungan Program MBG di Cikarang 3 bulan lalu

Komentar

Belum ada komentar nih, yuk komentarin.

Kamu perlu Masuk untuk berkomentar. Belum punya akun? Yuk daftarin. Daftar