Rp250 Miliar Dipertaruhkan, Petani Pebayuran Apresiasi Pemkab Bekasi Percepatan Normalisasi Irigasi
PEBAYURAN - Memasuki musim tanam, ketersediaan air menjadi persoalan krusial bagi petani di Kecamatan Pebayuran. Bukan hanya menyangkut keberhasilan panen, sektor pertanian di salah satu lumbung pangan Kabupaten Bekasi tersebut diperkirakan memiliki perputaran ekonomi hingga Rp250 miliar dalam satu musim tanam.
Karena itu, percepatan penanganan saluran irigasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bekasi mendapat apresiasi dari Paguyuban Petani Pebayuran. Normalisasi, pembersihan saluran hingga pompanisasi diharapkan mampu memastikan air kembali mengalir ke lahan pertanian yang saat ini masih mengalami kekeringan.
Perwakilan Paguyuban Petani Kecamatan Pebayuran, H. Sardi, mengatakan perhatian Pemkab Bekasi terlihat dari beberapa kali kunjungan langsung Plt Bupati Bekasi dr. Asep Surya Atmaja ke lapangan.
“Ini sudah hampir ketiga kalinya beliau turun langsung ke Pebayuran. Beliau memang sangat concern terhadap kondisi petani di sini,” ujar Sardi.
Menurutnya, percepatan penanganan irigasi menjadi semakin mendesak karena petani mulai memasuki musim tanam. Sejumlah saluran masih mengalami kekeringan dan dikhawatirkan menghambat proses tanam apabila pasokan air tidak segera tersedia.
“Saat ini petani memasuki musim tanam, sementara kondisi air di sejumlah saluran masih kering. Jangan sampai kondisi ini menyebabkan gagal panen,” katanya.
Menjaga Lumbung Pangan dan Ekonomi Rp250 Miliar
Sardi mengatakan Pebayuran memiliki posisi penting sebagai salah satu kawasan lumbung pangan Kabupaten Bekasi. Karena itu, memastikan ketersediaan air juga berarti menjaga produktivitas pangan sekaligus perekonomian ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
“Potensi ekonomi pertanian di Pebayuran luar biasa. Dalam satu musim tanam, perputaran ekonominya bisa mencapai sekitar Rp250 miliar. Kalau sampai terjadi gagal panen, dampaknya tentu sangat besar bagi petani,” ujarnya.
Upaya tersebut sekaligus dinilai sejalan dengan agenda swasembada pangan nasional. Menurut Sardi, keberhasilan program pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan pertanian, tetapi juga kesiapan infrastruktur yang menjamin air dapat sampai ke sawah petani.
Saluran 12 Kilometer Dibersihkan
Camat Pebayuran Hasyim Adnan Adha menjelaskan, salah satu langkah yang dilakukan adalah pembersihan saluran irigasi atau goloran di empat titik yang tersebar di empat desa.
Pembersihan dilakukan mulai BKG 26 hingga BKG 38 dengan panjang sekitar 12 kilometer. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari rencana penanganan yang telah dibahas sejak awal September.
Pelaksanaannya melibatkan Pemkab Bekasi bersama Jababeka, Perum Jasa Tirta (PJT), unsur Polsek dan Koramil, masyarakat serta para petani.
Penanganan tidak hanya dilakukan melalui goloran, tetapi juga normalisasi dan pompanisasi untuk memperlancar distribusi air menuju wilayah pertanian yang belum memperoleh pasokan secara optimal.
Sardi menambahkan, Pemkab Bekasi sebenarnya telah melakukan penanganan irigasi di Pebayuran sejak beberapa bulan terakhir. Normalisasi telah dilakukan pada sejumlah saluran sekunder mulai BKG 6 hingga BKG 38 dan sejumlah alat berat masih berada di lapangan.
“Terkait kunjungan Menteri kemarin, memang beliau menunjukkan perhatian dan langsung melihat kondisi di lapangan. Namun perlu kami sampaikan bahwa Pemkab Bekasi sebenarnya sudah bekerja sejak beberapa bulan lalu. Normalisasi saluran sekunder mulai BKG 6 sampai BKG 38 sudah dilakukan,” jelasnya.
Sementara pada beberapa titik, persoalan utama bukan sedimentasi melainkan pertumbuhan eceng gondok. Pembersihan pun masih dapat dilakukan secara manual melalui gotong royong masyarakat dan petani.
Petani Dorong Kolaborasi Pusat dan Daerah
Kunjungan pemerintah pusat ke Pebayuran dinilai menjadi momentum untuk memperkuat percepatan penanganan persoalan irigasi. Petani berharap sinergi antara pemerintah pusat, Pemkab Bekasi, BBWS, PJT dan masyarakat terus berlanjut.
“Ini menunjukkan adanya kolaborasi dan sinergi. Balai Besar Sungai, PJT, pemerintah daerah serta para petani bersama-sama bekerja untuk mendukung program swasembada pangan,” kata Sardi.
Atas percepatan tersebut, Paguyuban Petani Pebayuran mengapresiasi Pemkab Bekasi, khususnya Plt Bupati Bekasi, serta PJT, BBWS dan pihak lain yang terlibat dalam penanganan irigasi.
Bagi petani, pekerjaan rumah terpenting saat ini adalah memastikan air benar-benar sampai ke sawah. Sebab di tengah dimulainya musim tanam, kelancaran irigasi bukan hanya menentukan panen, tetapi juga menjaga Pebayuran tetap menjadi salah satu penopang produksi pangan Kabupaten Bekasi sekaligus mempertahankan roda ekonomi pertanian bernilai ratusan miliar rupiah setiap musimnya.
Topik Terkait

Komentar
Belum ada komentar nih, yuk komentarin.
Kamu perlu Masuk untuk berkomentar. Belum punya akun? Yuk daftarin. Daftar