Warganet Soroti Wajah Stasiun Cikarang, Usul Pintu Utara Dibuka untuk Kurangi Kepadatan

Foto illustrasi AI penataan dan pengembangan kawasan Stasiun Cikarang
CIKARANG UTARA - Pembahasan mengenai perkembangan Stasiun Cikarang dan penataan kawasan di sekitarnya memicu banyak tanggapan dari warganet. Sebagian besar komentar mengarah pada persoalan yang sama: bangunan stasiun dinilai sudah semakin modern, tetapi kondisi di luar stasiun masih dianggap semrawut, terutama pada akses keluar-masuk, parkir, angkot, ojek daring, hingga kemacetan di Jalan Yos Sudarso.
Sejumlah warganet menilai kontras antara kondisi di dalam dan di luar stasiun semakin terlihat. Akun @javierelliyas menulis, “Dalamnya keren... keluar area stasiun kusut.”
Komentar serupa disampaikan @retno_kitri yang menilai bagian dalam stasiun sudah bagus, namun akses keluar-masuk dan wajah depan stasiun belum mencerminkan fasilitas umum yang tertata. Ia juga menyoroti kondisi pagi hari yang dinilai semakin ruwet akibat aktivitas pasar dan lalu lintas di sekitar stasiun.
Keluhan lain datang dari @tiki_tjo yang menyebut akses menuju stasiun masih macet, parkir sulit, dan kondisi sekitar membuat perjalanan terasa tidak nyaman. Bahkan menurutnya, untuk perjalanan tertentu ia lebih memilih menuju Stasiun Bekasi meskipun jaraknya lebih jauh.
Parkir Jadi Keluhan Paling Banyak
Masalah parkir menjadi salah satu keluhan yang paling sering muncul. Akun @ribut_wahyu_satrio menilai area parkir belum mencukupi, sedangkan @hapsariyunita juga menyoroti minimnya tempat parkir dan akses stasiun yang semrawut.
Keluhan serupa disampaikan @joyyykkk yang menyebut tempat parkir di dalam stasiun kurang luas, sementara parkir di luar dinilai mahal. @tomy.hidayattt juga menyoroti parkir mobil yang terbatas serta tata ruang parkir sepeda motor yang dinilai belum tertib.
Sejumlah warganet kemudian mengusulkan agar kawasan Pasar Lama Cikarang dimanfaatkan sebagai solusi. @dasepsaepulrh mengusulkan agar kawasan pasar dialihfungsikan menjadi area parkir yang lebih rapi, sedangkan @chrysanthemum_gerbera mengusulkan konsep gedung park and ride.
Usulan yang lebih besar datang dari @syah_andrians dan @gilangprakarsa_ yang berharap kawasan pasar dapat dikembangkan menjadi gedung parkir bertingkat, sehingga mampu menampung lebih banyak mobil dan sepeda motor sekaligus mendukung fungsi kawasan sebagai simpul transportasi.
Angkot Ngetem dan Kendaraan Penjemput Ikut Disorot
Selain parkir, persoalan angkot juga menjadi perhatian utama.
Akun @eko.santoso.39794895 secara langsung meminta tata kelola angkot di depan stasiun dibenahi. @febssssss_ juga meminta angkot dirapikan, sementara @atikaarumee menyoroti angkot yang ngetem dan keberadaan “pak ogah” yang dinilai menambah kesemrawutan.
Komentar lebih panjang disampaikan @heyjack____. Ia menilai akses masuk stasiun menjadi semakin sempit karena angkot ngetem dan kendaraan parkir di sekitar akses keluar-masuk. Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak hingga luar kawasan stasiun dan memicu kemacetan.
Akun @carolineferren juga menyinggung kendaraan penjemput yang berhenti sembarangan dan menghalangi jalan. Sementara @rahmat_rudi_ menilai kawasan depan stasiun dipenuhi berbagai aktivitas, mulai dari ojol, angkot, kendaraan penjemput, pedagang kaki lima, hingga parkiran.
Rangkaian komentar tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya banyaknya kendaraan, tetapi belum adanya pembagian ruang yang benar-benar jelas antara angkot, ojek daring, kendaraan pribadi, parkir, dan pejalan kaki.
Akses dari Jalan Yos Sudarso Dinilai Terlalu Sempit
Sejumlah warganet menilai akses masuk dari Jalan Yos Sudarso menuju Stasiun Cikarang menjadi titik yang paling membutuhkan penataan.
Akun @agelyz_ menulis bahwa akses masuk dari Jalan Yos Sudarso perlu diperlebar karena sudah sempit dan semakin padat akibat angkot yang ngetem di depan akses stasiun.
Pendapat serupa juga terlihat dari komentar @parta_jendoel yang berharap area depan stasiun ditata menjadi parkir resmi dan lebih tertib, termasuk dengan kehadiran petugas yang lebih aktif mengatur lalu lintas.
Kepadatan di akses selatan ini kemudian memunculkan gagasan lain yang cukup sering disampaikan warganet, yaitu membuka akses dari sisi utara Stasiun Cikarang.
Warganet Usulkan Pintu Utara Stasiun Cikarang Dibuka
Salah satu usulan yang cukup menarik datang dari @budzweezy. Ia mempertanyakan mengapa akses masuk stasiun hanya satu dan menilai keberadaan pintu utara dan selatan bisa membantu mengurangi kemacetan.
Komentar serupa disampaikan @muslimferdy yang meminta KAI dan Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi mempertimbangkan pembuatan pintu atau tangga keluar-masuk stasiun dari arah utara. Menurutnya, pintu selatan sudah sangat padat, terutama pada pagi dan sore hari, karena tingginya aktivitas kendaraan dan angkot yang ngetem.
Akun @ariev03 juga mengusulkan dibuat dua pintu masuk dengan tambahan akses dari arah belakang stasiun agar beban lalu lintas tidak terpusat di satu sisi.
Usulan tersebut cukup relevan jika melihat pola aktivitas di Stasiun Cikarang saat ini. Hampir seluruh arus kendaraan, angkot, ojek daring, kendaraan penjemput, dan pengguna parkir masih terkonsentrasi di sisi yang menghadap Jalan Yos Sudarso.
Jika pintu utara dapat dibuka atau dikembangkan, distribusi penumpang berpotensi menjadi lebih seimbang. Sebagian pengguna bisa mengakses stasiun dari sisi utara tanpa harus memutar atau masuk ke kawasan Jalan Yos Sudarso yang sudah padat.
Namun tentu saja, pembukaan akses baru tidak cukup hanya dengan membuat pintu atau tangga. Akses jalan, ruang pejalan kaki, area naik-turun penumpang, parkir, hingga koneksi dengan angkutan umum di sisi utara juga perlu dirancang agar tidak justru memindahkan kesemrawutan ke lokasi lain.
Perlintasan Kereta Juga Jadi Masalah Warga
Persoalan kepadatan di kawasan Stasiun Cikarang juga tidak berhenti di pintu stasiun.
Akun @burhahnprakoso dan @ezzavels menyoroti kemacetan di Jalan Ki Asmawi dan Jalan Fudholi akibat perlintasan kereta yang semakin sering tertutup.
Meningkatnya aktivitas perjalanan kereta membuat waktu tutup palang dinilai semakin sering dan berdampak pada masyarakat yang hendak bekerja maupun bersekolah.
Keduanya berharap pemerintah mempertimbangkan pembangunan underpass atau flyover untuk memisahkan pergerakan kereta dengan kendaraan jalan raya.
Masalah ini menunjukkan bahwa perkembangan Stasiun Cikarang juga membawa konsekuensi lebih luas terhadap jaringan jalan di sekitarnya.
Truk Besar Ikut Dipersoalkan
Selain kendaraan umum dan kendaraan pribadi, warganet juga menyoroti keberadaan truk besar.
Akun @nisa.zahraaaa berharap kendaraan berat dan truk kontainer tidak lagi melintas di depan Stasiun Cikarang. Menurutnya, kendaraan besar ikut menambah kepadatan pada ruas jalan yang sudah dipenuhi aktivitas angkot, ojol, kendaraan penjemput, dan pengguna stasiun.
Komentar tersebut sejalan dengan keresahan warganet lain yang menilai Jalan Yos Sudarso belum ideal untuk menampung terlalu banyak fungsi dalam satu ruas.
Warganet Ingin Penataan Permanen, Bukan Sekadar Penertiban
Jika seluruh komentar dirangkum, terlihat bahwa masyarakat tidak hanya meminta operasi penertiban sesaat. Mereka menginginkan solusi yang lebih permanen.
Parkir membutuhkan tempat khusus. Angkot membutuhkan halte.
Ojek daring membutuhkan titik jemput yang jelas. Kendaraan penjemput membutuhkan area drop-off.
Pedagang membutuhkan ruang usaha. Pejalan kaki membutuhkan trotoar. Sedangkan akses masuk stasiun perlu diperbaiki dan, menurut sebagian warga, ditambah dari sisi utara.
Dengan kata lain, persoalan kawasan Stasiun Cikarang bukan hanya persoalan kemacetan, melainkan persoalan tata ruang dan integrasi transportasi.
Tantangan Berikutnya Ada di Luar Stasiun
Komentar warganet memperlihatkan bahwa ekspektasi terhadap Stasiun Cikarang kini sudah berubah.
Masyarakat tidak lagi sekadar menuntut kereta yang lebih baik atau bangunan stasiun yang lebih modern.
Mereka mulai menuntut ekosistem transportasi yang lebih tertata.
Akun @febryoktadinata bahkan berharap tersedia transportasi terintegrasi dari stasiun menuju berbagai tujuan di sekitar Cikarang.
Sementara @gilangprakarsa_ membayangkan kawasan Pasar Lama dapat menjadi alternatif terminal untuk bus, angkot dan moda pengumpan lainnya, sekaligus menampung parkir bertingkat.
Gagasan-gagasan tersebut menunjukkan satu hal: masyarakat sebenarnya sudah melihat Stasiun Cikarang bukan lagi hanya sebagai tempat naik dan turun kereta, tetapi sebagai pusat mobilitas kota.
Stasiunnya sudah berkembang.
Sekarang, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan akses, parkir, angkutan umum, pejalan kaki, kawasan perdagangan, dan pintu masuk dari berbagai arah juga berkembang mengikuti kebutuhan penumpang.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah stasiun tidak hanya terlihat dari bagusnya bangunan di dalam.
Tetapi juga dari seberapa mudah, tertib, dan nyaman masyarakat bisa mencapai serta meninggalkan stasiun tersebut.
Dan dari banyaknya komentar warganet, satu pesan terasa cukup jelas:
Stasiun Cikarang sudah modern, tetapi kawasan dan aksesnya masih menunggu penataan yang setara.
Topik Terkait

Komentar
Belum ada komentar nih, yuk komentarin.
Kamu perlu Masuk untuk berkomentar. Belum punya akun? Yuk daftarin. Daftar